Khutbah Jumat, Khotbah Jumat

Sungguh mengesankan, sebuah percakapan yang terjadi antara Nabi Muhammad SAW. dengan para sahabatnya. Dalam percakapan tersebut Nabi bertanya, “Wahai sahabatku, tahukah kalian, umat yang paling beruntung itu?” Diantara para sahabat ada yang menjawab, “mungkin para Malaikat ya Rasulullah.” Lalu Nabi menjelaskan, ”tugas para Malaikat itu tidak lain hanyalah untuk menyembah kepada Allah. Mereka pun diciptakan tanpa memiliki hawa nasfu. Jadi wajarlah mereka beriman dan beribadah.”

Setelah mendengarkan penjelasan Nabi, sahabat coba memberikan jawaban kembali, ”ya Rasulullah.. mungkin umat yang paling beruntung itu adalah kami, para sahabatmu?” Dengan tersenyum Nabi menjawab, ”sungguh beruntunglah orang yang bertemu dan beriman kepadaku. Namun sungguh beruntunglah beruntunglah beruntunglah mereka yang tetap mengimaniku meskipun tak pernah bertemu denganku selama hidupnya.”

Sungguh, kisah di atas, sebenarnya Rasulullah hendak menyampaikan pesan ilahiyah kepada seluruh umat beliau, termasuk kita yang hidup di zaman yang jauh setelah Rasulullah dan tak pernah berjumpa dengan beliau. Bahkan Nabi sampai mengulang hingga 3x, kata beruntung. Itu adalah sebuah penghargaan besar dari Rasulullah kepada kita.

Mengapa? Karena Rasulullah sudah bisa merasakan kekuatan dan ketajaman iman orang mukmin belakangan. Betapa tidak, orang-orang yang beriman belakangan ini sama sekali tak pernah bertemu Rasulullah. Namun tetap beriman kepada beliau dan kepada semua yang beliau bawa, yaitu ajaran Islam.

Para sahabat beriman kepada Rasulullah, itu wajar. Ini karena mereka menyaksikan sendiri wibawa, mukjizat, nubuwah, dan perjuangan Rasulullah. Sementara kita, hanya tahu Rasulullah dari pelajaran agama yang diberikan kepada kita. Selain itu, tantangan dan godaan pengikut Rasulullah di zaman sekarang lebih berat. Yang tak kuat iman, kemungkinan untuk berpaling dari Rasulullah sangat besar. Karena itulah Rasulullah memberikan penghargaan beliau kepada kita, sebagai umat yang paling beruntung.