Shalat Rawatib adalah Shalat sunnah yang dilakukan sebelum (qabliyah) dan sesudah (ba’diyah) shalat fardhu.
Keutamaan melaksanakan shalat rawatib sangatlah besar. Bahkan shalat rawatib termasuk salah satu shalat sunnah yang mu’akkad (sangat dianjurkan). Dengan kata lain shalat rawatib merupakan penyempurna dari shalat fardhu yang sudah dikerjakan.

Namun ada sebuah fenomena yang sering saya temukan ketika saya hendak berjamaah shalat fardhu di hampir setiap mushalah dan masjid yang saya temui.

Bahwa shalat rawatib memang sangatlah besar manfaatnya jika dilaksanakan, namun sepertinya para jama’ah juga haruslah bijak memposisikan dirinya.

Dalam hal ini shalat rawatib yang saya maksud adalah yang dikerjakan sebelum shalat fardhu (qabliyah).
Bagi mereka yang hadir dengan sangat telat dari sejak adzan dikumandangkan meskipun bilal belum iqamah, sebaiknya dia harus mempertimbangkan kembali niatnya untuk melakukan shalat rawatib qabliyah tersebut.
Karena pastinya jika ia tetap melaksanakannya, maka para jamaah yang sudah lama hadir dan siap berjamaah, terpaksa harus menunggu kembali.

Yang menjadi ukuran apakah ia pantas melakukannya adalah seberapa lamakah delay waktu sejak ia mendengar adzan dan kehadirannya di masjid tersebut.

Saya merasa mereka yang dalam perjalannya menuju ke mushalah atau masjid dengan diiringi suara adzan yang masih berkumandang hingga sesampainya di masjid tersebut, adalah mereka yang pantas melakukan shalat rawatib qabliyah.
Apalagi jika mereka yang sudah hadir sebelum adzan dikumandangkan. Mereka sangatlah pantas untuk melakukannya. Karena tak ada alasan mereka akan mengganggu/menghambat jamaah yang lain.

Sungguh menyedihkan pula, jika ternyata fenomena yang saya alami tersebut justru dilakukan oleh kebanyakan para imam-imam masjid.
Sangat tidak mencerminkan suri tauladan yang baik.
Mungkin para imam tersebut beranggapan bahwa kehadiran dirinya sangat diperlukan, maka ia dengan sesukanya hadir telat tanpa memikirkan keperluan jamaah yang sudah menantinya. Apakah imam tersebut tidak menyadari bahwa setiap jamaah mungkin punya kepentingan yang mendesak untuk dikerjakan setelah meninggalkan masjid.

Islam adalah agama yang bijaksana. Mengajarkan umat untuk bisa berdisiplin dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin, baik untuk keperluan dunia dan akhirat.

———–

“Selamat I’dul Fitri 1433 H.”

Mohon maaf lahir & bathin.
Semoga Allah menerima amal kebaikan & mengampuni segala dosa kita.

(Richi, Iin & Ghozi)